Minggu, 06 Maret 2011

Catatan harian seorang mahasiswa

08 Juli 2004
Ini adalah mulanya aku jadi mahasiswa. Fakultas Ekonomi, Jurusan manajemen, walaupun meleset dari yang kuinginkan (aku menginginkan fakultas kedokteran) tetap saja ada rasa bangga merayap di hatiku kala di terima di universitas ini, seperti “mimpi jadi kenyataan” anak desa kuliah di kota.
Sekarang aku berjanji untuk memberikan yang terbaik dari ku, dan kepadamu catatanku, aku berjanji akan mencoba mengisimu sepanjang waktu nanti. Untuk sekarang sekian dulu, sudah larut malam, besok harus pergi ke kampus “mendaftar”.
15 Agustus 2004
Untuk bisa masuk saja sudah susah, di tambah lagi dengan kesusahan yang datang dari gerombolan-gerombolan “pendahulu” yang mau ini dan itu, kalau tidak mengingat jerih payah bapak tentu sudah ku hadang mereka. Aku takut jika nanti ibu mengurai air mata duka, padahal sebelum kesini ibu juga memeras air mata. Air mata suka tentunya. Aku takut jika nanti aku di keluarkan hanya karena membuat masalah, walau bukan aku penyebabnya.
1 september 2004
Aku mulai terbiasa dengan rutinitas di kampus ini. Aku kenal banyak senior yang “cukup” baik untuk meminjamkan dan membantu dalam perkuliahan ini. Ternyata kegiatan awal dulu yang aku hina-dinakan sekarang mulai membawa berkah, walau masih banyak di antara mereka yang tentu saja masih seperti dahulu, mementingkan “pemujaan” pada yang lebih “tua” atau “dituakan”. Masih jernih dalam ingatan ku tentang peraturan di kampus yang di tanamkan mereka, peraturan pertama: mereka selalu benar, peraturan kedua: jika ada kesalahan maka kembali ke peraturan pertama.
Dalam pikiran ku waktu itu langsung saja mengaitkannya dengan kekuasaan dan pemerintahan. Kekuasaan bisa menjadi begitu besar mungkin karena hal tersebut. Karena adanya aturan yang di atur oleh sang penguasa. Aturan yang memperbolehkan segalanya baginya. Aturan yang melanggengkan kekuasaannya. Ternyata kita tak bisa menyalahkan para pejabat yang “katanya” seenaknya dalam membuat aturan, toh para mahasiswa yang katanya stock (persediaan) bagi masa depan ini sudah di ajarkan bagaimana mengambil untung dari aturan itu. Aturan yang di buat untuk mempertahankan kekuasaan.
14 maret 2005
Sudah lama rasanya tidak menulis, mungkin banyak unek-unek yang akan ku tuliskan. Tapi sekarang rasanya belajar di jurusan ini mulai menarik. Tidak kalah dari fakultas awal yang ku inginkan (mungkin). Entah kenapa tapi seperti yang di katakan oleh para dosen bahwa permasalahan adalah “jurang” yang terbentang antara hal yang seharusnya dengan hal yang terjadi. Sekarang mulai banyak permasalahan yang datang padaku. Mulai dari permasalahan keuangan, pelajaran, dan pembagian waktu kuliah dengan kegiatan eksternal (yang pada akhirnya kusadari bahwa permasalahan-permasalahan ini ternyata membuat ku menjadi lebih matang untuk menghadapi masalah lainnya).
Secara financial keluarga ku sekarang sudah mulai agak terbatuk-batuk dalam memberikan dana segar untuk membantu melancarkan proses belajar di kampus, sehingga mau tidak mau, sekarang aku harus mencari alternatif karena menurut para dosen alternatif adalah suatu peluang. Aku mulai membuat anggaran keuangan ku dengan menyesuaikan antara pendapatan dan pengeluaran ku sehingga tidak terjadi ketimpangan yang menyebabkan resiko financial bagiku. Resiko yang tidak hanya mengancam kuliah ku namun juga diriku sendiri.
Aku juga mulai mempraktekkan pembuatan perencanaan dalam hidup (sebenarnya lebih kearah bagaimana cara cepat mendapatkan uang), kami (para mahasiswa yang kehabisan uang) biasanya berkumpul untuk memikirkan “massa depan” kami dan jikalau kami sudah berkumpull biasanya “ide-ide aneh” muncul dalam waktu bersamaan dan mungkin karena keadaan kami yang hamper mirip (kesulitan financial) biasanya ide aneh itu langsung terealisir tanpa menunggu waktu lama, namun ternyata efek penyembuhannya juga pendek. Hal itu menyadarkan ku bahwa para mahasiswa menmpunyai banyak ide-ide yang aneh bagi orang lain namun mereka mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Mungkin benar apa kata legenda bahwa mahasiswa adalah agen dari perubahan, merekalah pioneer untuk perubahahan yang lebih baik, mungkin itu benar adanya.



Awalnya, ku pikir cinta itu indah. Ya, indah. Semua akan terasa sangat indah jika saja si pujaan hati tersebut mau menerima diriku. Ah, harusnya aku tak usah muluk-muluk di a mau menerimaku. Mau melihatku saja rasanya segala terasa berubah menjadi lebih indah, lebih bermakna, dan lebih berwarna.
Tiga kali. Ya, hanya tiga kali rasanya aku jatuh cinta. Tidak banyak bukan? untuk orang yang berumur 22 tahun seperti ku. Satu kali waktu aku duduk di sekolah dasar. Jangan tanya kenapa aku bisa cinta. Sebab kita semua tahu bahwa pada umur segitu intelektual kita sama sekali belum matang untuk memberikan keputusan yang memang seharusnya. Sehingga keputusan kita terbawa oleh arus massa. Aliran pikiran orang kebanyakan.
Ya, harus diakui dia memang cantik, menarik dan pintar. Jadi semua pria yang berada di kelasku seakan-akan berubah menjadi serigala yang hendak mencari ”gadis berkerudung merah” sebagai pelampiasan hasrat mereka. Jangan Tanya lagi kenapa kami pada waktu sekolah dasar sudah mengenal cinta. Sebab sekarang saja anak sekolah dasar sudah mengenal yang namanya ciuman, setingkat lebih tinggi dari cinta masa kanak kami dahulu.
Pengalaman jatuh cinta yang kedua adalah pada masa sekolah mengengah tingkat pertama. Pada masa ini, cinta di masa sd tadi sudah tidak laku lagi. Sebab, cinta masa sd adalah cinta terpendam. Hasrat yang tertimbun di dalam dada, tanpa mampu untuk di ungkapkan dan diekspresikan ke masyarakat. Sedangkan masa smp adalah masa awal perkembangan dari kanak-kanak ke remaja. Ada gejolak disana. Ada rasa ingin memiliki, rasa kebersamaan, yang merupakan awal dari segalanya.

Jikalau kau pergi meningalkan pentas kenapa tak bilang?
Padahal aku selalu menunggu, setia
Dibelakang panggung
Sambil berharap-bahwa kejadian di pentas tadi nyata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar